Chat yang terbilang tak panjang namun mampu membuatku
dekat dengannya. Chat-chat singkat dan berjangka. Sejak itu aku mulai berani
untuk mengesampingkan rasa pemaluku ini. Membuang sejenak rasa sungkanku
terhadap kawanku. Bukan berarti aku tak menghargai kawanku, tapi ini masalah
hatiku. Hatiku tak mampu berlama-lama menyembunyikan rasa ini. Aku hanyalah
aku. Wanita biasa yang ingin merasakan cinta, kasih, dan sayang dari seorang
pria yang kucintai, kukasihi, dan kusayangi. Apakah itu salah? Awalnya aku
berpikir ini semua salah. Kukorbankan perasaan kawanku demi kebahagiaanku. Tapi
kata orang ini semua boleh-boleh saja. Tak ada status diantara mereka, tak ada
kejelasan antara mereka, dan janur kuning pun belum melengkung. Kesempatan tak
datang dua kali.
Melihat pemandangan indah ciptaan sang pencipta bersama
seorang pria yang kudambakan sejak lama adalah sebuah anugrah terindah bagi
diriku saat itu. Menaiki sebuah motor dengan bumbu canda tawa selama perjalanan
tak mudah untuk dilupakan. Sampai saat ini kenangan tersebut masih sangat
tersimpan rapi. Tak tercampur dengan lainnya. Masih sangat terasa betapa
bahagianya aku saat itu. Rasa getar-getar didada saat bersamanya masih dapat
aku ingat. Seandainya kubisa menghentikan waktu. Akan ku hentikan waktu saat
itu jua, agar kubisa selalu didekatnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar