Translate

Minggu, 04 September 2016

Dini dan Kisah SMAnya



“Masa SMA adalah masa yang luar biasa bagi gw. Hampir 3 tahun gw di SMA Harapan ini. Di SMA gw bisa kenal dan punya banyak teman dengan sifat yang beraneka macam, gw bisa belajar berorganisasi dengan orang-orang yang luar biasa. Di SMA ini gw mulai mengenal apa itu yang dinamakan cinta. Tapi masa cinta gw di SMA tidak seindah teman-teman gw lainnya. Cinta gw begitu absurd dan aneh. Mungkin teman-teman gw yang mengetahui akan bilang kalo kisah cinta gw ini tragis. Menjadi orang yang tak diinginkan disebuah hubungan. Menjadi pengagum rahasia. Menjadi cinta sesaat. Menjadi korban php.” Begitulah yang ditulis Dini di blog kesayangannya itu.

Kurang dari 10 bulan lagi Dini akan mengakhiri masa SMAnya. Dini ingin melanjutkan kuliah di universitas negeri yang berada di provinsi tetangga, kira-kira 400km dari tempat tinggalnya kini.
---------------------------------------------------------------------------------------------

Dengan buru-buru Dini memarkirkan motornya dan segera memasuki ruang kelasnya. Saat pintu dibukanya. Ruang kelas itu pun sepi. Hanya terlihat tas teman-temannya.

“Pada dimana ya?” tanyanya dalam hati.

“Untuk anak-anak kelas 12 segera menuju ke ruang aula karena akan ada penyuluhan,” terdengar suara pengumuman dari speaker kelas.

Tak pikir panjang, Dini langsung berlari menuju aula. Karena kecerobohannya, Dini sempat dibut maulu oleh kelakuannya sendiri. Tersandung anak tangga saat ia menaikinya. Sesampainya dimuka pintu, Dini langung mengisi absensi dan masuk ke dalam aula bersama temannya dari kelas lain. Duduk di samping sahabat-sahabatnya, itulah yang Dini lakukan setelah melihat sahabat-sahabatnya duduk di kursi paling belakang.

Penyuluhan pun dimulai. Diawali dengan doa kemudin sambutan. Saat acara inti, Dini dan sahabat-sahabatnya tak tahan untuk mulai menggosip ria.

“Eh gw punya gossip baru nih,” kata salah seorang sahabatnya.

“Gosip apa Van?” Siska.

“Vani mah emang gudangnya gossip,” celetukku.

“Mau dengerin gak?” Vani

“Bolehlah, daripada gabut kaya gini,” Ratih.

“Eh jadikan, gw sama Lala kemarin pulang tuh. Nah kita liat si itu tu,” Vani.

“Si itu sapa sih Van?” Tyas.

“Itu lo, yang kemarin kita omongin di kelas,” Lala.

“Oh yayayaa, lanjut-lanjut,” Dini.

Gossip mereka nampaknya makin asik. Sampai-sampai beberapa kali mereka didatengin guru penjaga dan diceramahin A-Z. Tapi tetap saja mereka taka da kapoknya. Bahkan semakin asik mereka menggospinya. Tiba-tiba ditengah merka menggosip, Dini nampak meneteskan air mata.

“Jadi, dia tau? Siapa yang ngasih tau? Tapi dia kok sinis ke gw?”

“Si itulah Din,” kata sahabat-sahabatnya.

“Jangan-jangan dia ceritain gak sesuai kenyataan lagi. Jangan-jangan dia jelek-jelekin gw. Mati deh gw. Gw punya haters,” ucapnya sembari tertawa dan meneteskan air mata.

“Din, kayanya hubungan lu sama di taik itu dah nyebar deh. Si Vino aja udah tau,” Tyas.

“Motivasinya dia cerita-cerita ke banyak orang apa sih? Untungnya apa sih? Kenapa dia jelek-jelekin gw? Itukan udah dulu. Harusnya orang-orang tau yang sebenarnya, ga kaya gini,” Dini.

“Mungkin biar kejelekannya ketutup Din. Mungkin biar orang-orang ngira salahnya lu. Tapi ya ga ngerti juga sih kita,” Vani.

“Eh guys, jangan-jangan si Nata sengak ke gw gara-gara dia tau yang aneh-aneh tentang gw dari si itu. Jangan-jangan Nata taunya gw bukan cewe baik-baik,” Dini

“Udahlah udah,” Siska.

“Sumpah fix gw sekarang benci lagi sama dia. Dulu gw udah biasa aja ke dia. Gw udah gak benci, tapi gara-gara ini. Fix bakal gw block accountnya dia,” Emosi Dini menjadi-jadi ditengah-tengah acara inti penyuluhan itu.

---------------------------------------------------------------------------------------------

“Tuhan, jangan sampai orang-orang memfitnahku. Jangan sampai cerita buruk mengenaiku menyebar. Jangan sampai orang yang saat ini kukagumi mendengar fitnahan mengenai diriku. Ya Tuhan, bagaimana caranya agar orang yang kukagumi tidak mendengar mengenai fitnahan diriku? Apa aku harus menjauhinya? Kalau itu caranya agar orang yang kukagumi tidak mendengar, akan kulakukan Tuhan. Tuhan tolonglah aku. Tunjukanlah kebenaran  dan kebesaran-MU kepada orang-orang disekelilingku Tuhan,” itulah panjatan Doa Dini.

Dini merasa terpukul sekali mendengar kabar buruk mengenai dirinya itu. Saat sampai di rumah, Dini masih saja memikirkannya. Tak mudah untuknya menerima kabar buruk mengenai dirinya menyebar. Rasanya ingin sekali Dini memberitahu kepada semua apa yang telah terjadi secara real.

Kini adalah hari kesekian setelah Dini mengetahui kabar itu. Artinya sudah sekian lama Dini menjauh dari orang yang dikaguminya itu. Membohongi perasaan dan merelakannya pergi bukanlah perkara yang mudah, tapi itu semua harus dilakukan Dini agar seseorang yang dikaguminya itu tidak mendengar fitnah-fitnah buruk mengenai dirinya. Sekarang Dini harus berpura-pura seolah tak ada sesuatu yang terjadi di dalam hidupnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar