Mengenalnya sebagai
teman membuatku mengetahui sedikit banyak sifat dan tingkahnya. Cerewet, jujur,
apa adanya, gak bisa diem, cempreng, supel, keras, sulit ditebak, dan friendly.
Itulah sifat dan tingkahnya. Dia adalah teman pertama yang aku kenal di jurusan
ini. Dia adalah seorang teman yang sangat mengerti perasaan cewek dan dia
adalah sseorang teman yang sangat pandai memperlakukan wanita sebagai mana
layaknya. Sering sekali aku dibuat tertawa olehnya. Dua tahun mengenal dia
bukan waktu yang sebentar.
Itulah yang di tulis
Aliya dalam buku diarynya saat ini. Aliya adalah seorang mahasiswi ilmu
komunikasi di sebuah universitas negeri yang berada di sebuah kota wisata yang
terkenal dengan sebutan Kota Kembang.
“Li, ngapain sih lu
nulis-nulis diary? Kaya anak kecil aja. Ayolah kita main. Mumpung hari jumat
dan tugas lagi gak ada nih. Ciwalk aja Li, sama Rizky, Fattah, Vani. Gw pengen
waffle biasanya nih,” ucap Dien tanpa henti.
“Boleh-boleh,” jawabnya
singkat.
Setelah percakapan itu,
Dien dan Aliya bersiap-siap dan kemudian menunggu jemputan Rizky di lobby
apartement. Fattah dan Vani sudah terlebih dahulu berada di sana. Fattah dan
Vani itu tak jelas setatusnya. Dibilang gak pacaran tapi kaya pacaran, dibilang
pacaran tapi kenyataannya gak pacaran. Ribet banget hidup mereka.
“Tin….”
“Itu Rizky,” kata
Aliya.
“Selamat malem
cewek-cewek,” godanya.
Rizky sering sekali
menggoda wanita. Tapi godaannya hanya sekedar candaan gak lebih. Dengan wajah
tampan dan badan proposional, tak heran banyak anak kampus yang ngelirik Rizky.
Loving can hurt, loving can hurt sometimes
But it's the only thing that I know
When it gets hard, you know it can get hard
sometimes
It's the only thing that makes us feel alive
Terputar lagu ed sheeran dalam mobil Rizky. Rizky
yang awalnya ceria tiba-tiba mendalami lagu itu. Aliya yang sedari tadi sudah
terlihat tak bersemangat semakin taka da daya saat mendengar lagu itu. Menatap luar
jendela dengan gerimis rintik membuat Aliya semakin total meresapi lagu
tersebut. Aliya memejamkan mata dan Nampak mmikirkan suatu hal.
“Li, kenapa sih lu?” tanya Rizky, “gak usah
ikut-ikutan gue mendalami ni lagu deh. Lu kan gak ngalami kaya gw. Oh iya
gimana lu mau ngalami kaya gw, pacar aja gak ada. Hahahahaaaa,”
“D I E M L U!!!” jawab Aliya tegas.
“Ssttt, diem Ky. Dia lagi bingung.”
“Gw kenapa sih? Kenapa cinta gw gini banget. Suka
sama cowo dia udah ada pacar. Pas ada yang gw rasa nyaman, agamanya beda. Pas gw
suka sama cowo yg gak punya pacar + agamanya seiman, ternyata temen gw suka
sama cowo itu juga. Kenapa sih idup gw gini banget.” Celoteh Aliya tiba-tiba.
“Curhat sepuas lu aja Li. Kita bakal dengerin lu,”
kata Rizky.
Rizky yang nampak
bingung melihat Aliya dari kaca atas menyenggol-nyenggol Dien yang nampaknya
juga bingung. Aliya terlihat meneteskan air matanya dengan tatapan terus
memandang luar.
“Kalo dia emang buat
lu, dia bakal dating kok. Berdoa aja Li. Aku yakin dia atau siapapun cowok
diluar sana yang nantinya dapetin lu bakal beruntung banget. Lu itu baik,
sabar, setia, penyayang, lu itu istimewa Li. Yakin deh sama gw.” Dien.
“Yap betul Li. Udah air
mata lu apus dulu, bentar lagi sampe ni,” Rizky mencoba mencairkan suasana.
Setelah mereka
berputar-putar mencari parkir selama 15menit, akhir mereka parkir di lantai 4. Lumayn
jauh lantai 4 dengan tempat janjian mereka.
“Eh, Fattah Vani dah di
tempat biasa nih,” Rizky.
“Di waffle an kan?”
saut Dien.
“Senyumlah Li,” kata Rizky
sembari mencolek pipi Aliya.
“Tu Fattah Vani,” Aliya
akhirnya membuka mulutnya.
Berjalan dengan suasana
yang sudah mulai mencair nampak hangat. Canda gurau sembari menunjuk-nunjuk
Fattah Vani yang terlihat seprti orang berpcaran membuat mereka menahan tawa
yang sebenarnya menggelitik. Mengahampiri Fattah Vani dan duduk disekitar
mereka dengan cerita banyak hal itulah yang mereka lakukan setelah bertemu
dalam 1 meja.
“Tingtongtiongtong”
terdengar suara notif bbm.
“Ray!”
Nama
3 huruf bisa membuat Aliya terlihat senang. Ray adalah orang yang dimaksud saat
di dalam mobil tadi. Ray teman yang sudah mampu membuat Aliya sangat bahagia
akhir-akhir ini. Ray adalah sesosok yang mampu membuat Aliya lupa dengan
cowok-cowok sialan yang pernah membuat Aliya tak napsu makan beberapa bulan
silam. 2 tahun berteman dengan Ray membuatnya mengerti sifat baik dan buruknya
Ray.
“Senyum
dong. Aku lagi mantengin kamu nih. Jangan kebanyakan minum es lah,” isi BBM
dari Ray.
“Kamu
dimana?” balas Aliya singkat.
“Gila
kalian, dah pakek kamu aku lagi,” Rizky.
“Apaan
si,” Aliya menahan tawa.
“Tu
kan, kalo emang dia buat lu, lu dan dia bakal…” Dien.
“Ashhh
lu mah,” nampak memerah pipi Aliya.
“Oh
jadi Aliya sama si itu?” Fattah.
“Sama
sapa?” Vani.
“Diem
plisss, jangan biking w saling nying,” Aliya.
Tiba-tiba
sesosok itu pun hadir di belakang Aliya. Aliya yang sedang di pojokin
teman-temannya nampak salting setelah mengetahui kalau Ray ada di belakangnya.
“Eh
gw boleh minjem Aliya ga? Tar biar dia pulangnya gw anter.” Ray.
“Silahkan
silahkan.” Rizky.
“Jangan
sakiti Aliya ya,” Dien.
“Tenang
tenang. Gw balikin keadaan utuh kok. Tapi gak jamin napas ya,” tawa Ray.
“Nyinglah,”
Aliya.
“Huss
omongnnya. Enggalah Yak.” Ray, “ Kita pergi ya. Bye.”
Aliya
yang sejak di apartement nampak suram seketika berbinar setelah mengetahui ada
Ray. Apalagi kini Aliya dan Ray pergi berdua doing. Ciwalk tempang yang nyaman
buat berjalan-jalan berdua saja. Lampu-lampu indah, pohon tertata rapi, dan
percikan gerimis mmbuat suasana menjadi lebih sweet.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar