Translate

Minggu, 21 Agustus 2016

Kota Kembang yang Mempertemukan

Mengenalnya sebagai teman membuatku mengetahui sedikit banyak sifat dan tingkahnya. Cerewet, jujur, apa adanya, gak bisa diem, cempreng, supel, keras, sulit ditebak, dan friendly. Itulah sifat dan tingkahnya. Dia adalah teman pertama yang aku kenal di jurusan ini. Dia adalah seorang teman yang sangat mengerti perasaan cewek dan dia adalah sseorang teman yang sangat pandai memperlakukan wanita sebagai mana layaknya. Sering sekali aku dibuat tertawa olehnya. Dua tahun mengenal dia bukan waktu yang sebentar.

Itulah yang di tulis Aliya dalam buku diarynya saat ini. Aliya adalah seorang mahasiswi ilmu komunikasi di sebuah universitas negeri yang berada di sebuah kota wisata yang terkenal dengan sebutan Kota Kembang.

“Li, ngapain sih lu nulis-nulis diary? Kaya anak kecil aja. Ayolah kita main. Mumpung hari jumat dan tugas lagi gak ada nih. Ciwalk aja Li, sama Rizky, Fattah, Vani. Gw pengen waffle biasanya nih,” ucap Dien tanpa henti.

“Boleh-boleh,” jawabnya singkat.

Setelah percakapan itu, Dien dan Aliya bersiap-siap dan kemudian menunggu jemputan Rizky di lobby apartement. Fattah dan Vani sudah terlebih dahulu berada di sana. Fattah dan Vani itu tak jelas setatusnya. Dibilang gak pacaran tapi kaya pacaran, dibilang pacaran tapi kenyataannya gak pacaran. Ribet banget hidup mereka.

“Tin….”

“Itu Rizky,” kata Aliya.

“Selamat malem cewek-cewek,” godanya.

Rizky sering sekali menggoda wanita. Tapi godaannya hanya sekedar candaan gak lebih. Dengan wajah tampan dan badan proposional, tak heran banyak anak kampus yang ngelirik Rizky.

Loving can hurt, loving can hurt sometimes
But it's the only thing that I know
When it gets hard, you know it can get hard sometimes
It's the only thing that makes us feel alive

Terputar lagu ed sheeran dalam mobil Rizky. Rizky yang awalnya ceria tiba-tiba mendalami lagu itu. Aliya yang sedari tadi sudah terlihat tak bersemangat semakin taka da daya saat mendengar lagu itu. Menatap luar jendela dengan gerimis rintik membuat Aliya semakin total meresapi lagu tersebut. Aliya memejamkan mata dan Nampak mmikirkan suatu hal.

“Li, kenapa sih lu?” tanya Rizky, “gak usah ikut-ikutan gue mendalami ni lagu deh. Lu kan gak ngalami kaya gw. Oh iya gimana lu mau ngalami kaya gw, pacar aja gak ada. Hahahahaaaa,”

“D I E M L U!!!” jawab Aliya tegas.

“Ssttt, diem Ky. Dia lagi bingung.”

“Gw kenapa sih? Kenapa cinta gw gini banget. Suka sama cowo dia udah ada pacar. Pas ada yang gw rasa nyaman, agamanya beda. Pas gw suka sama cowo yg gak punya pacar + agamanya seiman, ternyata temen gw suka sama cowo itu juga. Kenapa sih idup gw gini banget.” Celoteh Aliya tiba-tiba.

“Curhat sepuas lu aja Li. Kita bakal dengerin lu,” kata Rizky.

Rizky yang nampak bingung melihat Aliya dari kaca atas menyenggol-nyenggol Dien yang nampaknya juga bingung. Aliya terlihat meneteskan air matanya dengan tatapan terus memandang luar.

“Kalo dia emang buat lu, dia bakal dating kok. Berdoa aja Li. Aku yakin dia atau siapapun cowok diluar sana yang nantinya dapetin lu bakal beruntung banget. Lu itu baik, sabar, setia, penyayang, lu itu istimewa Li. Yakin deh sama gw.” Dien.

“Yap betul Li. Udah air mata lu apus dulu, bentar lagi sampe ni,” Rizky mencoba mencairkan suasana.

Setelah mereka berputar-putar mencari parkir selama 15menit, akhir mereka parkir di lantai 4. Lumayn jauh lantai 4 dengan tempat janjian mereka.

“Eh, Fattah Vani dah di tempat biasa nih,” Rizky.

“Di waffle an kan?” saut Dien.

“Senyumlah Li,” kata Rizky sembari mencolek pipi Aliya.

“Tu Fattah Vani,” Aliya akhirnya membuka mulutnya.

Berjalan dengan suasana yang sudah mulai mencair nampak hangat. Canda gurau sembari menunjuk-nunjuk Fattah Vani yang terlihat seprti orang berpcaran membuat mereka menahan tawa yang sebenarnya menggelitik. Mengahampiri Fattah Vani dan duduk disekitar mereka dengan cerita banyak hal itulah yang mereka lakukan setelah bertemu dalam 1 meja.

“Tingtongtiongtong” terdengar suara notif bbm.

            “Ray!”

            Nama 3 huruf bisa membuat Aliya terlihat senang. Ray adalah orang yang dimaksud saat di dalam mobil tadi. Ray teman yang sudah mampu membuat Aliya sangat bahagia akhir-akhir ini. Ray adalah sesosok yang mampu membuat Aliya lupa dengan cowok-cowok sialan yang pernah membuat Aliya tak napsu makan beberapa bulan silam. 2 tahun berteman dengan Ray membuatnya mengerti sifat baik dan buruknya Ray.

            “Senyum dong. Aku lagi mantengin kamu nih. Jangan kebanyakan minum es lah,” isi BBM dari Ray.

            “Kamu dimana?” balas Aliya singkat.

            “Gila kalian, dah pakek kamu aku lagi,” Rizky.

            “Apaan si,” Aliya menahan tawa.

            “Tu kan, kalo emang dia buat lu, lu dan dia bakal…” Dien.

            “Ashhh lu mah,” nampak memerah pipi Aliya.

            “Oh jadi Aliya sama si itu?” Fattah.

            “Sama sapa?” Vani.

            “Diem plisss, jangan biking w saling nying,” Aliya.

            Tiba-tiba sesosok itu pun hadir di belakang Aliya. Aliya yang sedang di pojokin teman-temannya nampak salting setelah mengetahui kalau Ray ada di belakangnya.

            “Eh gw boleh minjem Aliya ga? Tar biar dia pulangnya gw anter.” Ray.

            “Silahkan silahkan.” Rizky.

            “Jangan sakiti Aliya ya,” Dien.

            “Tenang tenang. Gw balikin keadaan utuh kok. Tapi gak jamin napas ya,” tawa Ray.

            “Nyinglah,” Aliya.

            “Huss omongnnya. Enggalah Yak.” Ray, “ Kita pergi ya. Bye.”

            Aliya yang sejak di apartement nampak suram seketika berbinar setelah mengetahui ada Ray. Apalagi kini Aliya dan Ray pergi berdua doing. Ciwalk tempang yang nyaman buat berjalan-jalan berdua saja. Lampu-lampu indah, pohon tertata rapi, dan percikan gerimis mmbuat suasana menjadi lebih sweet.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar