Aku mau throwback
beberapa bulan yang lalu ya. Jadi gini, ini itu cerpen yang aku tulis untuk
diikutin lomba nulis bareng LUPUS. Aslinya cuma nulis iseng, karena disuruh
guru gitu (heheheheee). Sebgai penilaian diraport, kata beliau. Yaudinlahya,
biar diraport ada nilai jurnalistik akhirnya aku bikin dan aku kirim cerpen
ini.
Eh gak sangka
ternyata cepen yang kubuat bisa masuk semi final. Walau gak jadi juara, tapi
aku senang kok bisa jadi semi finalis nulis lupus bareng “30 TAHUN LUPUS”.
-------------------------------------------------------
Kapan Kamu Kembali?
Seturunnya Lupus dari pesawat bersama adik satu-satunya, dibukalah permen karet yang diambilnya dar idalam saku depan kanan celananya lalu dikunyahnya. Itulah kebiasaan Lupus yang takbiasa dihentikan hingga detik ini. Berjalan santai dengan sedikit gurauan menuju pintu keluar terminal 2E Bandara Soekarno-Hatta bersama adiknya terlihat hangat. Tak lupa Lupus meniup-niupkan permen karetnya.
“Lu, tar kita naik taxi aja ya,” ucap Lupus kepada Lulu (adiknya).
Selama berada di Melbourne banyak peristiwa yang Lupus abadikan dengan kamera kesayangan kado dari sang mantan. Diambilnya kamera dari tas kamera yang ia gendong.
“Lu, gimana nih hasil jepretanku kemarin?” tanya Lupus dengan meihatkan hasil jepretannya di kamera kesayangannya.
Lulu bingung, “Yang mana? Item semua tu. Rusak lagi. Ganti aja kak, dah lama jugaan.”
“Aduh. Masa error lagi.” Lupus sedikit panik.
Kamera itu sangat disayangi oleh
Lupus. Kemana Lupus pergi,
kamera itu selalu ada bersamanya. Walaupun kamera itu sudah sering rusak, tapi Lupus
tak mau menggantikan keberadaan kamera itu dengan kamera keluaran terbaru. Sudah hampir dua tahun kamera itu bersamanya.
“Lulu!”panggil Nessa.
Lulu pun mengampiri Nessa yang tak jauh dari hadapannya dengan menggandeng kakaknya itu. Lupus yang tampak sibuk dengan kameranya tiba-tiba kaget setelah baru menyadari keberadaan Nessa.
Nessa adalah wanita pujaan Lupus sejak awal SMA. Walau sudah ada kata putus sejak satu tahun lalu, tapi janji yang mereka ucapkan sebelum kepergian Nessa membuat Lupus tetap mencintai dan selalu menunggunya. Kepergian Lupus ke
Melbourne sejujurnya karena ia ingin sekali bertemu dengan Nessa yang kini telah menetap sementara di sana bersama keluarganya karena pekerjaan ayahnya. Tetapi saat di Melbourne, harapan Lupus
menemui Nessa sirna setelah jalan kesana kemari tanpa sepengetahuan Lulu tak kunjung membuahkan hasil.
“Kamu sekarang beda. Lebih rapi. Jambul kesayanganmu mana? Tapi permen itu masih,” ucap Nessa, “Aku di Jakarta sejak dua minggu yang lalu dan lusa aku balik lagi ke Melbourne buat ngurus kepindahanku ke Indonesia lagi. Tadi Lulu ngabarin aku terus aku langsung kesini,”
“Kamu masih ingat aku, Nes. Kamu masih sama kaya dulu. Aku rindu kamu Nes. Aku bakal tungguin kamu,” di dalam hati Lupus dengan matanya mentap rindu ke arah Nessa dengan senyum khasnya mengembang.
-maaf ya yang gak suka-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar