Translate

Minggu, 24 Juli 2016

Masalah yang Sulit


            “Li, tar malem main yuks. Sama anak-anak,” ajak Cindy dengan penuh semangat, “Li, lu denger ga sih?”
            “Apa? Sorry sorry,” ucapku panik.
            “Li, please deh! Lu tu naik kelas 12 malah makin aneh. Tar malem ayo main sama anak-anak. Mumpung malem minggu, ” mengesal.
          “Duh maap Cin, gue ga bisa. Ada acara. Urgent banget. Salam buat anak-anak deh,” sembari mengimut.
              “Yaelah lu mah. Yeyeye...”
          Berjalan meninggalkan gerbang sekolah sembari melihat jalanan yang belum familiar bagiku dengan pikiran yang masih memikiran dia. Yap, baru beberapa minggu yang lalu aku pindah rumah. Rumahku kini berada tak jauh dari sekolahanku. Alasan pindah rumah sih biar lebih dekat sama kantor mama dan sekolahku. Karena semakin lama waktu tempuh di kotaku ini semakin lama saja. Macet dimana-mana. Setelah 10 menit berjalan, akhirnya sampai rumah juga. Sekolah dan rumahku berjarak kira-kira 1 km. Ya, sangat dekat.
            “Prakkkk,”
Terdengar suara dari arah ruang tengah sesaat setelah aku sampai di kamar tidurku. Kulemparkan tas ke atas kasur dan segera berlari kecil menuruni anak tangga satu persatu. Perasaanku mulai tak karuan. Pikiran negatif langsung terbayang. Rampok, pembunuh, orang mabuk nyasar, dll. Maklum belum begitu nyaman dengan lingkungan rumah baru.
“Astaga, mama...,” pikirku seketika.
Sesampainya di bawah, di depan tangga. Terlihat sekilas ruang tengah. Teteh. Itu tetehku menanggis. Sampingnya itu, mama. Iya jelas sekali itu teteh dan mama sedang bersujud dan menangis di kaki papa.
“Diammmmm,” sentak papa.
Lemas. Itulah yang kurasakan saat itu. Aku tak tahu apa sebabnya. Kuhanya bisa mengintip dari balik tembok sembari meneteskan air mata.
“Udah kamu disini aja. Jangan ke sana. Jangan nangis. Liat aku,” memelukku dari belakang.
“Ada apa ini aa’? aa’?”
Tiba-tiba aa’ menghampiriku dan mencoba menenangkanku. Walau aa’ sudah berusaha, tapi perasaanku tetap saja tak tenang. Aku tak tahu apa yang terjadi hari ini. Dari dulu papa emang suka main tangan sama mama, teteh, dan aa’. Tapi papa belum pernah sama sekali main tangan sama aku. Jika papa akan main tangan kepadaku, aa’, teteh, ataupun mama membelaku mati-matian. Akan tapi papa sering membentakku tanpa suatu alasan. Entah kenapa papa seperti itu, aku tak tahu. Sudah biasa, tapi setiap papa kasar terhadap mama, teteh, dan aa’, ada sesuatu yang membuatku takut.
“Lily,” teriak mama saat aku berlari menuju kamar setelah papa menghilang dari balik pintu.
“Brakkkkk”
Aku tahu sekarang, kenapa mama dan teteh bersujud ke papa. Aku tahu. Kulihat serakan kertas di lantai. Kertas itu berserak sampai di dekatku tadi.
“Li, buka pintunya. Teteh masuk dong,”
------------------------------------------------------
Menangis yang kubisa. Bersengguk-sengguk meratapinya. Bingung apa yang harus kulakukan. Teriak, melempar buku sudah kulakukan. Tapi tetap saja sakit yang kurasa.
“Aku butuh teman cerita sekarang. Tapi siapa? Ya, aku butuh Dia. Dana,” gumamku.
Segera aku membuka hp dan menelphonenya. Tak direspon. Perasaanku sudah campur aduk, antara keluarga dan dia. Dana memang sudah tidak perhatian seperti dahulu, tapi hatiku berkata sesungguhnya dia masih memantauku dari sana. Kutelphone lagi Dana. Tak ada respon sama sekali. Kuberanikan diriku untuk mengirim pesan kedia.
“Dana, aku butuh kamu sekarang,” hanya di read.
“Aku tahu ini tiba-tiba. Aku bingung harus cerita sama siapa. Dan, keluargaku sekarang ada diujung tanduk. Aku, aa’, dan teteh udah berusaha merubah sifat papa yang selalu kasar, tapi itu semua tak berarti. Tetap saja papa kasar, bahkan semakin parah sekarang. Papa tadi berbuat kasar ke teteh dan mama. Ga cuma itu Dan, papa tadi menggugat cerai mama. Mama dan teteh sudah memohon kepada papa. Tapi tetap saja papa ingin bercerai, itu semua karena selingkuhan papa. Beberapa kali kulihat papa dengan cewe lain. Tadi saat papa pergi dari rumah kulihat cewe itu. Dan, aku cuma ingin cerita itu semua. Maaf kalau aku ganggu kamu,”
“Kenapa ke aku?” ketus.
“Dan, aku tahu kesadaranku lambat. Kamu harus tahu selama 1 bulan ini aku terus saja memikirkanmu,” pesanku.
“Terus?” Dana.
“Dan, perasaanku ke kamu tu kaya sifatnya papa ke mama, teteh, aa’, dan aku.”
“To the point”
“Susah diubah. Aku, mama, teteh, aa’ udah berusaha merubah sifat papa, tapi hasilnya nihil. Papa tetap papa yang dulu. Yang suka mabok-mabokan, judi, main cewe, dan selalu kasar ke keluarga.”
“Li,”
“Perasaanku kekamu kaya sifatnya papa. Susah diubah. 1bulan lebih aku berusaha ngerubah perasaanku kekamu. 1bulan lebih Dan, Itu sulit bagiku. Aku tahu kesadaranku ini sangat lambat. Aku baru sadar setelah kamu pindah keluar kota. Dahulu, cuma kamu yang peduli dengan masalah-masalahku, dan aku harap kamu peduli lagi dengan masalah-masalahku yang sekarang. Sulit Dan. Buktinya saat seperti ini, masih saja yang terlintas di pikirku namamu,” kuberanikan diri untuk menulis seperti itu.
“Kamu dimana sekarang. Kasih alamatmu, selama ini aku engga ke luar kota. Aku Cuma homeschooling.”
------------------------------------------------------
Beberapa hari kemudian aku sudah mulai pasrah apa yang akan terjadi pada keluargaku dan aku dengan Dana.




-maaf kalau ga suka-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar