“Li, tar malem main yuks. Sama anak-anak,”
ajak Cindy dengan penuh semangat, “Li, lu denger ga sih?”
“Apa? Sorry sorry,” ucapku panik.
“Li, please deh! Lu tu naik kelas 12
malah makin aneh. Tar malem ayo main sama anak-anak. Mumpung malem minggu, ”
mengesal.
“Duh maap Cin, gue ga bisa. Ada acara.
Urgent banget. Salam buat anak-anak deh,” sembari mengimut.
“Yaelah lu mah. Yeyeye...”
Berjalan meninggalkan gerbang
sekolah sembari melihat jalanan yang belum familiar bagiku dengan pikiran yang
masih memikiran dia. Yap, baru beberapa minggu yang lalu aku pindah rumah. Rumahku
kini berada tak jauh dari sekolahanku. Alasan pindah rumah sih biar lebih dekat
sama kantor mama dan sekolahku. Karena semakin lama waktu tempuh di kotaku ini
semakin lama saja. Macet dimana-mana. Setelah 10 menit berjalan, akhirnya
sampai rumah juga. Sekolah dan rumahku berjarak kira-kira 1 km. Ya, sangat dekat.
“Prakkkk,”
Terdengar suara dari arah ruang tengah
sesaat setelah aku sampai di kamar tidurku. Kulemparkan tas ke atas kasur dan segera
berlari kecil menuruni anak tangga satu persatu. Perasaanku mulai tak karuan. Pikiran
negatif langsung terbayang. Rampok, pembunuh, orang mabuk nyasar, dll. Maklum belum
begitu nyaman dengan lingkungan rumah baru.
“Astaga, mama...,” pikirku seketika.
Sesampainya di bawah, di depan tangga. Terlihat
sekilas ruang tengah. Teteh. Itu tetehku menanggis. Sampingnya itu, mama. Iya jelas
sekali itu teteh dan mama sedang bersujud dan menangis di kaki papa.
“Diammmmm,” sentak papa.
Lemas. Itulah yang kurasakan saat itu. Aku
tak tahu apa sebabnya. Kuhanya bisa mengintip dari balik tembok sembari
meneteskan air mata.
“Udah kamu disini aja. Jangan ke sana. Jangan
nangis. Liat aku,” memelukku dari belakang.
“Ada apa ini aa’? aa’?”
Tiba-tiba aa’ menghampiriku dan mencoba
menenangkanku. Walau aa’ sudah berusaha, tapi perasaanku tetap saja tak tenang.
Aku tak tahu apa yang terjadi hari ini. Dari dulu papa emang suka main tangan
sama mama, teteh, dan aa’. Tapi papa belum pernah sama sekali main tangan sama
aku. Jika papa akan main tangan kepadaku, aa’, teteh, ataupun mama membelaku
mati-matian. Akan tapi papa sering membentakku tanpa suatu alasan. Entah kenapa
papa seperti itu, aku tak tahu. Sudah biasa, tapi setiap papa kasar terhadap
mama, teteh, dan aa’, ada sesuatu yang membuatku takut.
“Lily,” teriak mama saat aku berlari menuju
kamar setelah papa menghilang dari balik pintu.
“Brakkkkk”
Aku tahu sekarang, kenapa mama dan teteh
bersujud ke papa. Aku tahu. Kulihat serakan kertas di lantai. Kertas itu
berserak sampai di dekatku tadi.
“Li, buka pintunya. Teteh masuk dong,”
------------------------------------------------------
Menangis yang kubisa. Bersengguk-sengguk
meratapinya. Bingung apa yang harus kulakukan. Teriak, melempar buku sudah
kulakukan. Tapi tetap saja sakit yang kurasa.
“Aku butuh teman cerita sekarang. Tapi siapa?
Ya, aku butuh Dia. Dana,” gumamku.
Segera aku membuka hp dan menelphonenya. Tak
direspon. Perasaanku sudah campur aduk, antara keluarga dan dia. Dana memang
sudah tidak perhatian seperti dahulu, tapi hatiku berkata sesungguhnya dia
masih memantauku dari sana. Kutelphone lagi Dana. Tak ada respon sama sekali. Kuberanikan
diriku untuk mengirim pesan kedia.
“Dana, aku butuh kamu sekarang,” hanya di
read.
“Aku tahu ini tiba-tiba. Aku bingung harus
cerita sama siapa. Dan, keluargaku sekarang ada diujung tanduk. Aku, aa’, dan
teteh udah berusaha merubah sifat papa yang selalu kasar, tapi itu semua tak
berarti. Tetap saja papa kasar, bahkan semakin parah sekarang. Papa tadi
berbuat kasar ke teteh dan mama. Ga cuma itu Dan, papa tadi menggugat cerai
mama. Mama dan teteh sudah memohon kepada papa. Tapi tetap saja papa ingin
bercerai, itu semua karena selingkuhan papa. Beberapa kali kulihat papa dengan
cewe lain. Tadi saat papa pergi dari rumah kulihat cewe itu. Dan, aku cuma
ingin cerita itu semua. Maaf kalau aku ganggu kamu,”
“Kenapa ke aku?” ketus.
“Dan, aku tahu kesadaranku lambat. Kamu harus
tahu selama 1 bulan ini aku terus saja memikirkanmu,” pesanku.
“Terus?” Dana.
“Dan, perasaanku ke kamu tu kaya sifatnya
papa ke mama, teteh, aa’, dan aku.”
“To the point”
“Susah diubah. Aku, mama, teteh, aa’ udah
berusaha merubah sifat papa, tapi hasilnya nihil. Papa tetap papa yang dulu. Yang
suka mabok-mabokan, judi, main cewe, dan selalu kasar ke keluarga.”
“Li,”
“Perasaanku kekamu kaya sifatnya papa. Susah
diubah. 1bulan lebih aku berusaha ngerubah perasaanku kekamu. 1bulan lebih Dan,
Itu sulit bagiku. Aku tahu kesadaranku ini sangat lambat. Aku baru sadar
setelah kamu pindah keluar kota. Dahulu, cuma kamu yang peduli dengan
masalah-masalahku, dan aku harap kamu peduli lagi dengan masalah-masalahku yang
sekarang. Sulit Dan. Buktinya saat seperti ini, masih saja yang terlintas di
pikirku namamu,” kuberanikan diri untuk menulis seperti itu.
“Kamu dimana sekarang. Kasih alamatmu,
selama ini aku engga ke luar kota. Aku Cuma homeschooling.”
------------------------------------------------------
Beberapa hari kemudian aku sudah mulai
pasrah apa yang akan terjadi pada keluargaku dan aku dengan Dana.
-maaf kalau ga suka-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar