“Li, bangun. Jangan kebo mulu.” Tiba-tiba
keinget kalimat itu pas aku bangun pagi.
“Kok bisa keinget Kevin sih,” gerutuku
sendiri.
1 tahun yang lalu Kevin lah yang bangunin
aku, ga kaya sekarang ini L. Dulu
pasti Kevin selalu chat aku subuh-subuh, nginetin buat siap-siap sekolah. Apalagi
kalau awal masuk habis liburan kaya hari ini. Ahyaudalah, sekarang ya sekarang lupain
yang dulu-dulu J.
“Li ayo bangun. Inget sekolah.” Kata si
mama.
“Iya, mah.”
Segera mandi dan tacap-tacap dikit lalu cus
berangkat.
“Hahahahahaaaa,” terdengar tertawa khas si
dia.
Di perjalanan menuju ke sekolah, aku merasa
kurang nyaman. Entah karena apa, tapi perasaanku tak enak rasanya. Sejujurnya aku
udah mulai membuka hati ini kepada seseorang (nama disamarkan “dia”), tapi
akhir-akhir ini dia selalu cuek ketika membalas chatku. Mungkin karena itu perasaanku
kini tak enak, atau mungkin karena dia kini sudah tak lagi berada di kelas
bahkan di sekolah yang sama denganku, atau bahkan perasaanku tak enak karena
aku bingung dengan perasaanku ini. Tapi kini aku yakin, perasaanku sepertinya
sudah bukan milik Kevin semenjak ada Dia. Dialah yang bisa membuatku tertawa
lepas. dialah yang bisa membuatku menjadi diri sendiri. Dialah yang bisa
membuatku lupa akan sosok Kevin saatku berada di dekatnya. Dialah yang bisa
mengerti aku. Dialah yang bisa memenangkan perasaan ini. Sekarang aku yakin
hati ini untuk dia bukan untuk Kevin.
Penyesalan itu pasti datangnya terakhir,
kaya aku gini. Dulu waktu si dia care ke aku, aku kaya cuma main-main ke dia. Kini
waktu aku care ke dia, semuanya udah terlambat. Dia udah pindah sekolah dan
udah ga se-care dulu ke aku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar