Translate

Senin, 18 Juli 2016

Kevin atau Dia?

            “Li, bangun. Jangan kebo mulu.” Tiba-tiba keinget kalimat itu pas aku bangun pagi.
“Kok bisa keinget Kevin sih,” gerutuku sendiri.
1 tahun yang lalu Kevin lah yang bangunin aku, ga kaya sekarang ini L. Dulu pasti Kevin selalu chat aku subuh-subuh, nginetin buat siap-siap sekolah. Apalagi kalau awal masuk habis liburan kaya hari ini. Ahyaudalah, sekarang ya sekarang lupain yang dulu-dulu J.
“Li ayo bangun. Inget sekolah.” Kata si mama.
“Iya, mah.”
Segera mandi dan tacap-tacap dikit lalu cus berangkat.
“Hahahahahaaaa,” terdengar tertawa khas si dia.
Di perjalanan menuju ke sekolah, aku merasa kurang nyaman. Entah karena apa, tapi perasaanku tak enak rasanya. Sejujurnya aku udah mulai membuka hati ini kepada seseorang (nama disamarkan “dia”), tapi akhir-akhir ini dia selalu cuek ketika membalas chatku. Mungkin karena itu perasaanku kini tak enak, atau mungkin karena dia kini sudah tak lagi berada di kelas bahkan di sekolah yang sama denganku, atau bahkan perasaanku tak enak karena aku bingung dengan perasaanku ini. Tapi kini aku yakin, perasaanku sepertinya sudah bukan milik Kevin semenjak ada Dia. Dialah yang bisa membuatku tertawa lepas. dialah yang bisa membuatku menjadi diri sendiri. Dialah yang bisa membuatku lupa akan sosok Kevin saatku berada di dekatnya. Dialah yang bisa mengerti aku. Dialah yang bisa memenangkan perasaan ini. Sekarang aku yakin hati ini untuk dia bukan untuk Kevin.

Penyesalan itu pasti datangnya terakhir, kaya aku gini. Dulu waktu si dia care ke aku, aku kaya cuma main-main ke dia. Kini waktu aku care ke dia, semuanya udah terlambat. Dia udah pindah sekolah dan udah ga se-care dulu ke aku.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar