“DYARRRRRRRRRRRR” Suara tabrakan itu selalu
ada di dalam mimpinya. Tak hanya suara, seluruh kejadian itu seperti terulang
kembali saat Sila tertidur. Itu semua selalu membangunkannya hampir disetiap
malam. Hari ini Sila pun terbangun untuk kesekian kalinya karena mimpi itu. Kecelakaan
itu yang membuat jiwanya trauma sampai detik ini.
Kejadian itu terjadi sangat cepat. Waktu
itu, Sila dan Doni
baru saja merayakan ulang tahun sahabat Sila,
Penta. Sepulang dari perayaan ulang tahun itu, mereka berdua bercanda dan tertawa
bersama di dalam mobil Doni. Mereka melintasi TOL JAGORAWI dengan kecepatan
yang lumayan kencang, karena waktu itu jalanan lenggang tak seperti biasanya
dan saat mereka melintas jam menunjukan pukul 12 tengah malam. Beberapa menit
setelah mereka tertawa bahagia, tiba-tiba ada sebuah mobil dari arah berlawanan
menabrak pembatas tengah dan menghantam mobil yang di dalamnya ada Sila dan
Doni..
“Doni… Doni…” Sila terus memanggil namanya. terlihat samar-samar Doni tak sadarkan diri dan
dahinya mengeluarkan darah. Seketika semuanya gelap.
“Ma, Yah. Ada apa ini? Tante? Om? Penta. Brandon.
Stef. Vani.” Mereka menangis dan terlihat sangat khawatir.
“Ada apa ini?” terus saja Sila berjalan
melewati lorong-lorong. "Sepertinya di rumah sakit."
Sila terus bertanya pada dirinya sendiri kenapa orang-orang tak melihat dan mendengarkannya. Dia semakin bingung. Tak lama kemudian Sila melihat suster mendorong pasien. Doni. Ternyata pasien itu Doni. Sila menangis. Lalu Sila melihat ada pasien yang sedang didorong menuju IGD lagi. Perasaannya mulai tak menentu. Dia hampiri dan dilihatnya.
Sila terus bertanya pada dirinya sendiri kenapa orang-orang tak melihat dan mendengarkannya. Dia semakin bingung. Tak lama kemudian Sila melihat suster mendorong pasien. Doni. Ternyata pasien itu Doni. Sila menangis. Lalu Sila melihat ada pasien yang sedang didorong menuju IGD lagi. Perasaannya mulai tak menentu. Dia hampiri dan dilihatnya.
“Aku? Aku terbaring dengan berlumuran darah?
Kenapa aku bisa melihat jiwaku? Ada apa ini?”
Sila
tersadar, dia sedang berada diantara hidup atau mati. Sila bingung apa yang
harus dilakukannya. Dia
hanya menangis dan menangis melihat semuanya.
-------------------------------------------------------------------------------------------
“Sila… Sil… kamu bisa dengar suara mama
Sil?” didengarnya suara
itu dan dilihatnya banyak
orang berkerumun dihadapannya.
“Kamu udah siuman Sil?” Suara ayah. Iya,
itu suara ayah Sila.
“Aku. Ternyata aku sudah sadar. Aku sudah
terbangun dari semuanya. Antara hidup atau mati. Aku telah berhasil melewati
semuanya. Kini, bagaimana keadaan Doni?” dalam pikirnya saat dirinya terbangun hanya
memikirkan keadaan Doni.
“Doniii.... Don…. Doni mana…?” Suaranya terbata-bata sembari meneteskan
air mata.
Bingung. Cemas. Khawatir. Terlihat ekspresi
itu di wajah Mama, Ayah, Penta, Brandon, Stef, Vani, Mama Doni dan Papa Doni.
“Dok, dokter. Suster.” Mama memanggilnya.
Setelah diperiksa, Sila kembali menanyakan
Doni kepada semuanya. Tapi tetap saja tak ada yang menjawab. Semuanya kini
berlinang. Ayah tiba-tiba keluar dari kamar rawat Sila, dan sepertinya Sila
mulai mengetahui sesuatu. Sepertinya Sila bisa menyimpulkan ini semua.
“Tante, Doni dimana? Dia baik-baik aja kan,
Tante? Tante, Sila mau ketemu Doni. Sila mau bicara sama Doni.” Tante Dini (Mama Doni) hanya diam dan beberapa kali menghapus air
matanya.
“Tante, Doni lagi ada urusan ya?” “Ma,
boleh tolong telepon-in Doni?” “Kenapa semuanya diam?! Kenapa mama nangis?!
Tante? Aku udah sadar sekarang, tapi kenapa semuanya nangis?” “Om, Doni dimana
ya? Sila kangen sama Doni.”
Sila mulai menagis dan meraung.
“Kecelakaan itu!!!” Ucapnya.
“Tenang Sila. Tenang.” Tante Dini dan Mama
memeluk Sila erat.
“Om keluar dulu.” Katanya.
-------------------------------------------------------------------------------------------
Setelah Sila keluar dari rumah sakit itu,
dia langsung menuju TPU tempat dimana Doni tinggal untuk selama-lamanya.
Sesampainya di sana, dilangkahkan
perlahan kakinya. Perlahan tapi pasti dia menuju ketempatnya. terlihat dari
jauh teukir nama Aditya Doni Bima Nugraha. Bunga-bunga menutupi tanah, tampak
jelas. Karangan bunga berjejer rapi disekitar peristirahatannya. Secara begitu
saja air mata Sila mengalir. Sesampainya dipusaran Doni, makin tak kuasa untuk
Sila membendung air mata. Terlukis jelas raut wajah Doni dalam benak Sila. Teringat
semua yang pernah diialaminya
bersama Doni. Tawanya, senyumnya, suaranya, terbayang di pikiran Sila.
“Doni… Sila sayang sama Doni. Sila kangen
sama Doni. Doni, tunggu Sila di surga ya. Doni istirahat dulu disana.”
“Sil…” Mama mengusap pundak Sila.
“Don, kenapa semuanya jadi seperti ini?!
Kenapa semuanya secepat ini?! Kenapa kamu pergi ningalin aku Don? Don,
seandainya waktu bisa kembali….aku…aku…”
“Udah Sil, ikhlasin Doni. Dia akan bahagia
kalau kamu ikhlas. Om frans disini…”
“Aku nggak bisa liat Doni untuk yang
terakhir kalinya. Aku gak bisa nganter Doni sampai diperistirahatannya. Aku
kangen Doni om. Kenapa harus Doni yang dipanggil Tuhan?”
Om Frans menyodorkan sebuah kotak yang
berisi gulungan kertas dan sebuah kaset.
-------------------------------------------------------------------------------------------
Kini sudah 1tahun semenjak Doni pergi
meinggalkan dunia ini. Tapi tetap saja Doni masih berada di pikiran Sila tiap
waktu. Malam ini saja Sila terbangun karena rindu akan sosok Doni.
“Doni, kau takkan pernah kulupakan. Doni terimakasih
kau telah memberi warna di hidupku. Setelah aku tak sadar beberapa hari,
akhirnya aku bisa tersadar. Itu semua karena kamu, Doni. Kaulah malaikat yang
tuhan kirimkan untukku. Walau ragamu sudah tak berada disampingku, tapi kini
kita akan terus bersama. Kini kau berada di dalam tubuhku. Kau selalu berdetak
memberi kehidupan untukku. Kau hidup di tubuhku dan ku hidup karena hadirmu. I LOVE YOU.” Tulis Sila dalam buku diarynya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar