Translate

Selasa, 19 Juli 2016

Aku Kamu, Kamu Aku


“DYARRRRRRRRRRRR” Suara tabrakan itu selalu ada di dalam mimpinya. Tak hanya suara, seluruh kejadian itu seperti terulang kembali saat Sila tertidur. Itu semua selalu membangunkannya hampir disetiap malam. Hari ini Sila pun terbangun untuk kesekian kalinya karena mimpi itu. Kecelakaan itu yang membuat jiwanya trauma sampai detik ini.
Kejadian itu terjadi sangat cepat. Waktu itu, Sila dan Doni baru saja merayakan ulang tahun sahabat Sila, Penta. Sepulang dari perayaan ulang tahun itu, mereka berdua bercanda dan tertawa bersama di dalam mobil Doni. Mereka melintasi TOL JAGORAWI dengan kecepatan yang lumayan kencang, karena waktu itu jalanan lenggang tak seperti biasanya dan saat mereka melintas jam menunjukan pukul 12 tengah malam. Beberapa menit setelah mereka tertawa bahagia, tiba-tiba ada sebuah mobil dari arah berlawanan menabrak pembatas tengah dan menghantam mobil yang di dalamnya ada Sila dan Doni..
“Doni… Doni…” Sila terus memanggil namanya. terlihat samar-samar Doni tak sadarkan diri dan  dahinya mengeluarkan darah. Seketika semuanya gelap.
“Ma, Yah. Ada apa ini? Tante? Om? Penta. Brandon. Stef. Vani.” Mereka menangis dan terlihat sangat khawatir.
“Ada apa ini?” terus saja Sila berjalan melewati lorong-lorong. "Sepertinya di rumah sakit." 
Sila terus bertanya pada dirinya sendiri kenapa orang-orang tak melihat dan mendengarkannya. Dia semakin bingung. Tak lama kemudian Sila melihat suster mendorong pasien. Doni. Ternyata pasien itu Doni. Sila menangis. Lalu Sila melihat ada pasien yang sedang didorong menuju IGD lagi. Perasaannya mulai tak menentu. Dia hampiri dan dilihatnya.
Aku? Aku terbaring dengan berlumuran darah? Kenapa aku bisa melihat jiwaku? Ada apa ini?
Sila tersadar, dia sedang berada diantara hidup atau mati. Sila bingung apa yang harus dilakukannya. Dia hanya menangis dan menangis melihat semuanya.
-------------------------------------------------------------------------------------------
“Sila… Sil… kamu bisa dengar suara mama Sil?” didengarnya suara itu dan dilihatnya banyak orang berkerumun dihadapannya.
“Kamu udah siuman Sil?” Suara ayah. Iya, itu suara ayah Sila.
Aku. Ternyata aku sudah sadar. Aku sudah terbangun dari semuanya. Antara hidup atau mati. Aku telah berhasil melewati semuanya. Kini, bagaimana keadaan Doni? dalam pikirnya saat dirinya terbangun hanya memikirkan keadaan Doni.
“Doniii.... Don…. Doni mana…?” Suaranya terbata-bata sembari meneteskan air mata.
Bingung. Cemas. Khawatir. Terlihat ekspresi itu di wajah Mama, Ayah, Penta, Brandon, Stef, Vani, Mama Doni dan Papa Doni.
“Dok, dokter. Suster.” Mama memanggilnya.
Setelah diperiksa, Sila kembali menanyakan Doni kepada semuanya. Tapi tetap saja tak ada yang menjawab. Semuanya kini berlinang. Ayah tiba-tiba keluar dari kamar rawat Sila, dan sepertinya Sila mulai mengetahui sesuatu. Sepertinya Sila bisa menyimpulkan ini semua.
“Tante, Doni dimana? Dia baik-baik aja kan, Tante? Tante, Sila mau ketemu Doni. Sila mau bicara sama Doni.” Tante Dini (Mama Doni) hanya diam dan beberapa kali menghapus air matanya.
“Tante, Doni lagi ada urusan ya?” “Ma, boleh tolong telepon-in Doni?” “Kenapa semuanya diam?! Kenapa mama nangis?! Tante? Aku udah sadar sekarang, tapi kenapa semuanya nangis?” “Om, Doni dimana ya? Sila kangen sama Doni.”
Sila mulai menagis dan meraung.
“Kecelakaan itu!!!” Ucapnya.
“Tenang Sila. Tenang.” Tante Dini dan Mama memeluk Sila erat.
“Om keluar dulu.” Katanya.
-------------------------------------------------------------------------------------------
Setelah Sila keluar dari rumah sakit itu, dia langsung menuju TPU tempat dimana Doni tinggal untuk selama-lamanya. Sesampainya di sana, dilangkahkan perlahan kakinya. Perlahan tapi pasti dia menuju ketempatnya. terlihat dari jauh teukir nama Aditya Doni Bima Nugraha. Bunga-bunga menutupi tanah, tampak jelas. Karangan bunga berjejer rapi disekitar peristirahatannya. Secara begitu saja air mata Sila mengalir. Sesampainya dipusaran Doni, makin tak kuasa untuk Sila membendung air mata. Terlukis jelas raut wajah Doni dalam benak Sila. Teringat semua yang pernah diialaminya bersama Doni. Tawanya, senyumnya, suaranya, terbayang di pikiran Sila.
“Doni… Sila sayang sama Doni. Sila kangen sama Doni. Doni, tunggu Sila di surga ya. Doni istirahat dulu disana.”
“Sil…” Mama mengusap pundak Sila.
“Don, kenapa semuanya jadi seperti ini?! Kenapa semuanya secepat ini?! Kenapa kamu pergi ningalin aku Don? Don, seandainya waktu bisa kembali….aku…aku…”
“Udah Sil, ikhlasin Doni. Dia akan bahagia kalau kamu ikhlas. Om frans disini…”
“Aku nggak bisa liat Doni untuk yang terakhir kalinya. Aku gak bisa nganter Doni sampai diperistirahatannya. Aku kangen Doni om. Kenapa harus Doni yang dipanggil Tuhan?”
Om Frans menyodorkan sebuah kotak yang berisi gulungan kertas dan sebuah kaset.
-------------------------------------------------------------------------------------------
Kini sudah 1tahun semenjak Doni pergi meinggalkan dunia ini. Tapi tetap saja Doni masih berada di pikiran Sila tiap waktu. Malam ini saja Sila terbangun karena rindu akan sosok Doni.

Doni, kau takkan pernah kulupakan. Doni terimakasih kau telah memberi warna di hidupku. Setelah aku tak sadar beberapa hari, akhirnya aku bisa tersadar. Itu semua karena kamu, Doni. Kaulah malaikat yang tuhan kirimkan untukku. Walau ragamu sudah tak berada disampingku, tapi kini kita akan terus bersama. Kini kau berada di dalam tubuhku. Kau selalu berdetak memberi kehidupan untukku. Kau hidup di tubuhku dan ku hidup karena hadirmu. I LOVE YOU.” Tulis Sila dalam buku diarynya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar