Raut berubah tak seperti dahulu. Luntur sudah senyumnya. Dingin dan ketus. Itulah kelakuannya kepada Nisa.
Gelak tawa yang selalu menyelimuti mereka, kini telah lenyap bak di telan bumi. Seperti orang asinglah mereka sekarang. Seolah-olah tak pernah saling mengenal.
“Jika aku bisa memilih, aku tidak akan memilih tempat ini untuk menjadi sekolahku dan aku tidak ingin mengenal dia, Tuhan. Tuhan, beberapa hari lagi aku akan meninggalkan sekolah ini, tolong tegarkanlah aku,” ucap Nisa dalam doanya.
“Nis, Nis,” panggil seorang sahabatnya sembari mencari dimana keberadaan Nisa.
Beberapa saat setelah Nisa sholat, kembalilah dia ke ruang kelasnya ditemani Siska. Siska sahabat karib Nisa selama ini. Kepada Siskalah Nisa berkeluh kesah. Banyak cerita mengenai seseorang yang dahulu pernah dekat dengan Nisa disimpannya rapat-rapat.
Pendiam, pendiam, dan pendiam. Begitulah Nisa setelah suasana menjadi seperti ini. Tak seperti dahulu lagi. Keriangan yang selalu menyelimutinya hilang entah kemana. Bingung saat bertemu dengannya, bingung harus berkata apa, bingung. Selalu bingung ketika bertemu dengan lelaki itu.
Nisa memutuskan untuk menjahui lelaki itu. Tapi disuatu sisi, Ia masih bingung dengan perasaannya. Sudah sejak lama Nisa menaruh kekaguman kepada lelaki tersebut, tetapi Ia tahu sesuatu. Sesuatu yang membuatnya perpikir berkali-kali untuk menaruh hati kepada lelaki itu.
Desas-desus mengenai lelaki itu semakin lama semakin sering ia dengarkan. Membuatnya semakin sulit untuk melupakannya.
Sapaan hangat yang dahulu saling mereka lontarkan ketika berpapasan, kini berubah menjadi buang muka yang sangat menyayat hati.
“Nis, kemarin aku lihat dia sama cewek lain loh,” kata temannya.
Hanya sebuah senyuman mengembang seolah-olah tak ada rasa sedihlah yang Nisa berikan kepada temannya itu. Dalam hati sungguh sakit mendengar cerita seperti itu. Tapi mau gimana lagi, Nisa harus menerima konsekuensi semuanya saat Ia memutuskan untuk menjauh dari lelaki itu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar