“Prak,” sebuah tamparan
melayang tepat di pipi Tama, “aku gak bisa kaya gini terus. Kesabaran ku ada
batesnya, Tam,” Lia
Tama
bingung dengan apa yang baru saja ia alami. Tiba-tiba dengan wajah yang marah
sembari meneteskan air mata Lia datang kemudian bergerutu dengan nada yang
tinggi. Tak ada hujan tak ada badai, semua terjadi begitu saja.
“Lu kenapa
sih?” tanyanya heran.
Tama dan
Lia adalah seorang sahabat yang sudah saling mengenal sejak mereka duduk di kelas 1 sma. Persahabatan
mereka kini sudah terjalin kurang lebih 5tahun. Hampir setiap hari mereka
selalu bertemu. Patilah mereka sering bertemu, rumah mereka saja berhadapan.
Mereka tinggal dalam kompleks yang sama.
“Gimana
akting gue?” tanya Lia sembari tertawa dan mengusap air matanya, “bagus kan,
Tam?”
“Anjay lu,
gue kira ada apaan. Dasar bangke lu!” Tam dengan nada olokan seperti biasa kepada
Lia
“Gue besok
mau casting nih,” senggol Tama.
“Casting
figuran? Hahaha,” Tama tertawa.
“Doain gue
kek,” Lia
“Gue doain
Li. Bismillah lu besok bakal jadi orang hebat deh. Gue bakal jadi fans pertama
lu without your fam,” sembari tersenyum lebar.
Setelah 2 tahun
berlalu, Lia kini seorang mahasiswi tingkat akhir di IKJ (Institut Kesenian
Jakarta). Cita-citanya kini tak sededar cita-cita. Paras Lia yang cantik, manis
dan kulit Lia yang bersih walaupun tidak terlalu putih mendorong sekali dirinya
untuk menjadi seorang artis. Tama adalah satu-satu sahabat terdekatnya sampai
saat ini. Tama selalu mensuport apapun yang Lia kerjakan. Lia sangatlah beruntung
mempunyai sahabat seperti Tama. Sering sekali Tama mengantarkan Lia untuk
keluar masuk pintu lokasi casting. Walaupun kini Lia sudah sering di contact
beberapa pihak untuk menjadi pembawa acara, menjadi pemeran beberapa ftv,
menjadi iklan sebuah produk, tapi Lia tetap mau untuk casting kesana-kemari.